Covid-19, Sekolah Islam Indonesia Jeddah Sulit Bayar Sewa

Ahad , 05 Jul 2020, 22:43 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Dr Elly Warti Maliki, Lc. MA, Kepala Sekolah Internasional Islamic School Jeddah menayatakan pihaknya menghadapi kesulitan pendanaan.
Dr Elly Warti Maliki, Lc. MA, Kepala Sekolah Internasional Islamic School Jeddah menayatakan pihaknya menghadapi kesulitan pendanaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejak Covid-19 masuk ke Arab Saudi, Pendiri Indonesian Islamic International School (IIIS) di Jeddah, Elly Warti Maliki, mengalami berbagai kesulitan. 

 

Terkait

Siswa-siswa sekolah Islam Indonesia tersebut tidak bisa membayar uang SPP, sehingga pihak sekolah pun tidak bisa membayar uang sewa gedung.

Baca Juga

Elly mengatakan, siswa IIIS sekarang tidak memiliki gedung lagi. Dia saat ini tengah berupaya agar bisa menemukan gedung baru lagi dan berharap bisa bertemu dengan pengusaha yang bisa membantu membayar uang sewa gedung.

“Tahun ajaran baru akan segera dimuali , kami harus segera mencari gedung baru,” ujar Elly saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (5/7).

Dia menceritakan, sejak Covid-19 menyebar ke Arab Saudi pada awal Maret 2020 Pemerintah Arab Saudi langsung menutup seluruh institusi pendidikan, mulai dari tingkat TK sampai perguruan tinggi, serta tempat kursus.

“Waktu itu masih tiga bulan menjelang liburan akhir tahun. Kami pun langsung melaksanakan proses belajar mengajar secara online menggunakan aplikasi zoom,” ucapnya.

Menurut dia, suasana saat itu sangat mencekam. Bukan hanya sekolah-sekolah yang harus tutup, bahkan jamaah umrah yang sudah terbang dari berbagai negara tidak diperbolehkan masuk ke bandara Arab Saudi. Seluruh penerbangan ke Arab Saudi maupun ke luar Arab Saudi saat itu langsung disetop.

Tidak lama kemudian, pemerintah Arab Saudi kemudian memberlakukan lockdown secara bertahap. Awalnya, Saudi hanya hanya membolehkan wargaya beraktivitas sampai pukul 03.00 sore, kemudian sampai pukul 08.00 malam, dan akhirnya mengeluarkan kebijakan lockdown selama 24 jam.

“Kemudian, banyak orang kehilangan penghasilan, sehingga suasananya betul-betul tidak normal,” kata perempuan asal Padang ini.

Sementara, pada awal Mei lalu IIIS sudah harus membayar sewa gedung sekolah sebesar 100 ribu riyal atau sekitar Rp 387 juta. Namun, pihak sekolah tidak memiliki biaya lagi untuk membayar gedung tersebut.

“Jangankan untuk membayar sewa gedung, untuk membayar SPP saja uang tua murid banyak yang tidak mampu, sedangkan tuan rumah (pemiliki gedung) tidak bisa diajak kompromi, akhirnya kami terpaksa harus meninggalkan gedung itu,” jelas alumni Universitas Al-Azhar Mesir ini.  

Elly telah mendirikan sekolah Islam Indonesia bertaraf Internasional ini sejak 1992. Selama ini, Elly pun telah bersusah payah untuk mengembangkan dan mempertahankan sekolah itu. Untuk menemukan gedung baru, dia pun kini mulai membuat Gerakan Sejuta Perempuan Berwakaf (GSPB).

Melalui gerakan itu, dia berharap kelak sekolah Islam Indonesia tersebut bisa memiliki gedung sendiri, sehingga dia pun tidak perlu lagi bersusah payah untuk membayar uang sewa gedung. “Insya Allah sekarang mau mulai Gerakan Sejuta Perempuan Berwakaf. ACT (Aksi Cepat Tanggap) sudah setuju,” ujarnya.

Dia menambahkan, gerakan tersebut akan diluncurkan dalam waktu dekat. Saat ini Elly tengah mencari 10 pengusaha perempuan yang mau berwakaf, untuk kemudian akan ditampilkan dalam acara launching.  

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini