REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Begitu sampai di tiang nomor 111, jamaah asal Kalimantan Barat ini menjumpai tumpukan puing-puing beton besar. Satu bongkahan beton yang lebih besar sudah bercampur dengan darah manusia. Bongkahan besar ini tidak mungkin bisa diangkat dengan satu orang.
“Di tiang 111 itu lah istri saya berada. Itu pas di lokasi kejadian,” kata Idrin seperti dilaporkan wartawan Republika, EH Ismail.
Idrin pun tak berpikir panjang untuk mendekati mayat-mayat yang hancur. Kendati dilarang dengan para petugas yang langsung sigap mencoba membatasi areal bandul crane jatuh, Idrin nekat menghamburkan diri ke lokasi mayat bergelimpangan. “Saya diteriaki petugas. Katanya haram…haram…haram…tapi saya tetap teriak, ini my wife..my wife….,” cerita Idrin.
Dia langsung menerobos masuk dan membalik-balikkan badan sejumlah jamaah yang sudah wafat di lokasi. Setidaknya ada enam jenazah yang diperiksa Idrin demi mencari sang istri. Jenazah di lokasi kejadian sudah banyak yang hancur tak berbentuk. Ada yang tengkoraknya pecah, isi perutnya memburai, dan tangan serta kakinya hilang.
“Celana dan baju saya penuh darah. Saya terus mencari istri saya,” kata Idrin.
Perasaan Idrin tambah berkecamuk manakala dia menemukan sajadah dan tas tenteng kuning yang dibawa istrinya. Idrin mengenal betul sajadah Rubiah. Idin terus mencari dan akhirnya menemukan Alquran yang dikenalnya. Alquran itu ada sedikit jauh dari tumpukan jenazah. Sedikit harap mencuat. Idrin berpikir istrinya sudah berpindah tempat jauh dari sajadah dan tas jinjing kuning miliknya.
Tidak lama, puluhan petugas membuat garis pembatas (police line) di lokasi jatuhnya bandul baja crane.
“Saya bersujud, berdoa meminta temukanlah saya dengan istri saya,” kata Idrin.
Lima menit setelah bersujud, Idrin melihat bilik tempat jamaah terluka dirawat. Ada tujuh orang di dalamnya. Tapi, sang istri tak ada di tempat itu. Kemudian, suara ambulans meraung dari arah pintu Babus Salam. Banyak mayat segera dibawa ambulans-ambulans itu. Idrin berlari menuju ambulans dan meminta ikut.
Dalam pikirannya, kalaupun Rubiah menjadi salah satu korban ambruknya crane raksasa, maka dia akan ditampung di rumah sakit tempat ambulans membawa jenazah-jenazah tersebut. Tapi Idrin dilarang. Di tengah kepanikan dan ketidakmampuan berbahasa Arab, Idrin berteriak-teriak tak karuan. “Indonesia…Indonesia…Kalbar…,” teriak Idrin.
Setelah itu, ada jamaah Indonesia bernama Iwan yang menenangkannya. Iwan meminta Idrin tetap berlaku tenang dan pulang ke maktab untuk menyelusuri informasi mengenai Rubiah. “Saya akhirnya pulang ke maktab dengan baju dan celana penuh darah.”
Keesokan harinya, Idrin mendapatkan kabar bahwa Rubiah binti Muhammad Zailani adalah salah satu dari tujuh orang jamaah haji Indonesia yang terluka akibat musibah crane. Rubiah dibawa ke RS King Faisal Azis di Syisyah. Idrin yang mantan guru di Balai Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Kalimantan Barat ini pun mengucap syukur. Sang istri yang lahir pada 8 Februari 1957 di Singkawang masih selamat dari musibah crane.




